2016•Unpublished venueRequires access

DESIGN OF RISER AND SUBSEA PIPELINE EXPANSION SPOOL: CASE STUDY KILO FIELD PT. PERTAMINA HULU ENERGI OFFSHORE NORTH WEST JAVA

Hidayat Wusta Lesmana

Open publisher page 0 citations

Abstract

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam perancangan pipa bawah laut, riser, maupun spool (dog-leg). Pada umumnya, pada pipeline department dalam perusahaan-perusahaan engineering memulai desain pipeline dengan tahap routing, perhitungan tebal pipa atau riser, perhitungan stabilitas pipa di bawah laut, perhitungan ekspansi, perhitungan cathodic protection, dan perhitungan bentang bebas pipa. Setelah itu dilakukan pemodelan pada software. Adapun perhitungan seperti head loss, pressure drop, sampai pada tahap penentuan diameter luar pada umumnya dilakukan oleh process department. Hasil yang didapat pada perhitungan tebal pipa adalah 7.70 mm untuk pipeline dan 9.06 mm untuk riser dan spool. Sedangkan tebal pipa nominal yang dipilih berdasarkan standard adalah 8.2 mm untuk pipeline dan 9.5 mm untuk riser dan spool. Ekspansi yang terjadi pada ujung pipeline KC adalah 77 mm dan pada ujung pipeline KA adalah 67 mm. Sedangkan panjang spool minimal yang dibutuhkan berdasarkan ekspansi yang terjadi adalah 10.05 m. Berdasarkan hasil perhitungan stabilitas di bawah laut, tebal lapisan beton yang dibutuhkan adalah 30 mm. Sedangkan untuk perhitungan free span sampai pada tahap screening fatigue criteria didapatkan bahwa semua panjang span initial pada pipeline dan riser telah memenuhi kriteria. Pada pemodelan dengan software didapat bahwa model mengalami kegagalan pada member spool. Oleh karena itu, dilakukan redesign dengan mengganti tebal pipa, riser, dan spool sesuai dengan pipe schedule yang lebih tebal. Setelah dilakukan pergantian tebal maka tidak didapatkan member yang gagal pada model dengan meninjau tegangan maksimal yang terjadi.

About this research paper

What this paper is about

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam perancangan pipa bawah laut, riser, maupun spool (dog-leg). Pada umumnya, pada pipeline department dalam perusahaan-perusahaan engineering memulai desain pipeline dengan tahap routing, perhitungan tebal pipa atau riser, perhitungan stabilitas pipa di bawah laut, perhitungan ekspansi, perhitungan cathodic protection, dan perhitungan bentang bebas pipa. Setelah itu dilakukan pemodelan pada software. Adapun perhitungan seperti head loss, pressure drop, sampai pada tahap penentuan diameter luar pada umumnya dilakukan oleh process department. Hasil yang didapat pada perhitungan tebal pipa adalah 7.70 mm untuk pipeline dan 9.06 mm untuk riser dan spool. Sedangkan tebal pipa nominal yang dipilih berdasarkan standard adalah 8.2 mm untuk pipeline dan 9.5 mm untuk riser dan spool. Ekspansi yang terjadi pada ujung pipeline KC adalah 77 mm dan pada ujung pipeline KA adalah 67 mm. Sedangkan panjang spool minimal yang dibutuhkan berdasarkan ekspansi yang terjadi adalah 10.05 m. Berdasarkan hasil perhitungan stabilitas di bawah laut, tebal lapisan beton yang dibutuhkan adalah 30 mm. Sedangkan untuk perhitungan free span sampai pada tahap screening fatigue criteria didapatkan bahwa semua panjang span initial pada pipeline dan riser telah memenuhi kriteria. Pada pemodelan dengan software didapat bahwa model mengalami kegagalan pada member spool. Oleh karena itu, dilakukan redesign dengan mengganti tebal pipa, riser, dan spool sesuai dengan pipe schedule yang lebih tebal. Setelah dilakukan pergantian tebal maka tidak didapatkan member yang gagal pada model dengan meninjau tegangan maksimal yang terjadi.

Why it matters

A significance statement is not available in the OpenAlex record.

Key contribution

A contribution statement is not available in the OpenAlex record.

Method / approach

Method details are not available in the OpenAlex metadata.

Main findings

Findings are not separately available in the OpenAlex metadata.

Limitations

Limitations are not available in the OpenAlex metadata.

Applications

Application details are not available in the OpenAlex metadata.

Available abstract

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam perancangan pipa bawah laut, riser, maupun spool (dog-leg). Pada umumnya, pada pipeline department dalam perusahaan-perusahaan engineering memulai desain pipeline dengan tahap routing, perhitungan tebal pipa atau riser, perhitungan stabilitas pipa di bawah laut, perhitungan ekspansi, perhitungan cathodic protection, dan perhitungan bentang bebas pipa. Setelah itu dilakukan pemodelan pada software. Adapun perhitungan seperti head loss, pressure drop, sampai pada tahap penentuan diameter luar pada umumnya dilakukan oleh process department. Hasil yang didapat pada perhitungan tebal pipa adalah 7.70 mm untuk pipeline dan 9.06 mm untuk riser dan spool. Sedangkan tebal pipa nominal yang dipilih berdasarkan standard adalah 8.2 mm untuk pipeline dan 9.5 mm untuk riser dan spool. Ekspansi yang terjadi pada ujung pipeline KC adalah 77 mm dan pada ujung pipeline KA adalah 67 mm. Sedangkan panjang spool minimal yang dibutuhkan berdasarkan ekspansi yang terjadi adalah 10.05 m. Berdasarkan hasil perhitungan stabilitas di bawah laut, tebal lapisan beton yang dibutuhkan adalah 30 mm. Sedangkan untuk perhitungan free span sampai pada tahap screening fatigue criteria didapatkan bahwa semua panjang span initial pada pipeline dan riser telah memenuhi kriteria. Pada pemodelan dengan software didapat bahwa model mengalami kegagalan pada member spool. Oleh karena itu, dilakukan redesign dengan mengganti tebal pipa, riser, dan spool sesuai dengan pipe schedule yang lebih tebal. Setelah dilakukan pergantian tebal maka tidak didapatkan member yang gagal pada model dengan meninjau tegangan maksimal yang terjadi.

Key concepts: Physics, Humanities, Forestry, Geography, Art

Related papers

Back to paper searchBrowse research topicsOriginal source
DESIGN OF RISER AND SUBSEA PIPELINE EXPANSION SPOOL: CASE STUDY KILO FIELD PT. PERTAMINA HULU ENERGI OFFSHORE NORTH WEST JAVA — Research Paper | ScholarLens