Counter Stereotype Potrayed By Female Characters In Thor: Ragnarok (2017)
Yessy Sukma Arinda
Abstract
Yessy Sukma Arinda
Abstract
Dalam banyak film, terutama film-film yang bertema superhero, karakter wanita biasanya distereotipkan. Mereka digambarkan terlalu sensitif, lebih pasif, penurut, lemah, dan hanya berperan sebagai pemeran pendukung. Stereotip yang ada membuat saya tertarik untuk melakukan penelitian dalam menemukan apakah ada konter stereotip oleh karakter wanita dalam film. Saya memilih Thor: Ragnarok sebagai objek penelitian. Saya menggunakan teori feminisme esixtentialis sebagai pendekatan penelitian dalam menemukan konter stereotip oleh karakter wanita dalam film tersebut. Studi film juga digunakan untuk menganalisis gambar dalam film. Dalam penelitian ini, saya menemukan bahwa beberapa karakter wanita berperan melawan stereotip terhadap stereotip karakter wanita dalam film. Selain itu, karakter wanita yang digambarkan sebagai konter stereotip adalah Hela, Scrapper 142, dan Jenderal Grandmaster. Hela digambarkan sebagai wanita yang sangat kuat baik secara fisik maupun emosional. Scrapper 142 dan Jenderal Grandmaster digambarkan sebagai wanita yang berani dan kuat. Karakter wanita juga digambarkan independen dan tidak pasif. Perempuan digambarkan sebagai subjek yang kuat dan memiliki peran penting dalam film ini. Peran wanita dalam film ini yang digambarkan sebagai karakter pemberani, aktif, dan mandiri membuktikan konsep yang dicetuskan oleh Jean Paul Sartre yaitu being for herself (etre pour soi) yang berarti bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memutuskan segala hal dalam hidupnya. dan mampu memecahkan teka-teki hidup mereka. Sementara itu, peran karakter perempuan yang kuat mebuktikan konsep being for others (etre pour les autres) yang berarti bahwa perempuan juga mampu menjadi subjek dan tidak selalu menjadi objek atau the other.
A significance statement is not available in the OpenAlex record.
A contribution statement is not available in the OpenAlex record.
Method details are not available in the OpenAlex metadata.
Findings are not separately available in the OpenAlex metadata.
Limitations are not available in the OpenAlex metadata.
Application details are not available in the OpenAlex metadata.
Dalam banyak film, terutama film-film yang bertema superhero, karakter wanita biasanya distereotipkan. Mereka digambarkan terlalu sensitif, lebih pasif, penurut, lemah, dan hanya berperan sebagai pemeran pendukung. Stereotip yang ada membuat saya tertarik untuk melakukan penelitian dalam menemukan apakah ada konter stereotip oleh karakter wanita dalam film. Saya memilih Thor: Ragnarok sebagai objek penelitian. Saya menggunakan teori feminisme esixtentialis sebagai pendekatan penelitian dalam menemukan konter stereotip oleh karakter wanita dalam film tersebut. Studi film juga digunakan untuk menganalisis gambar dalam film. Dalam penelitian ini, saya menemukan bahwa beberapa karakter wanita berperan melawan stereotip terhadap stereotip karakter wanita dalam film. Selain itu, karakter wanita yang digambarkan sebagai konter stereotip adalah Hela, Scrapper 142, dan Jenderal Grandmaster. Hela digambarkan sebagai wanita yang sangat kuat baik secara fisik maupun emosional. Scrapper 142 dan Jenderal Grandmaster digambarkan sebagai wanita yang berani dan kuat. Karakter wanita juga digambarkan independen dan tidak pasif. Perempuan digambarkan sebagai subjek yang kuat dan memiliki peran penting dalam film ini. Peran wanita dalam film ini yang digambarkan sebagai karakter pemberani, aktif, dan mandiri membuktikan konsep yang dicetuskan oleh Jean Paul Sartre yaitu being for herself (etre pour soi) yang berarti bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memutuskan segala hal dalam hidupnya. dan mampu memecahkan teka-teki hidup mereka. Sementara itu, peran karakter perempuan yang kuat mebuktikan konsep being for others (etre pour les autres) yang berarti bahwa perempuan juga mampu menjadi subjek dan tidak selalu menjadi objek atau the other.
Key concepts: Humanities, Art