2016Unpublished venueRequires access

Analysis of the Portrayal of the Female Protagonistsin Henry James’ The Portrait of A Lady and Kate Chopin’s The AwakeningUsing Feminism Approach

Melissa Sylviani

Open publisher page 0 citations

Abstract

Dalam skripsi ini, saya akan menganalisis penggambaran tokoh utama wanita dalam dua novel, yaitu The Portrait of a Lady karya Henry James dan The Awakening karya Kate Chopin dari sudut pandang feminisme. Kedua novel ini menceritakan tentang wanita yang mengalami tekanan sosial dalam institusi pernikahan pada akhir abad ke-19. Isabel Archer dalam The Portrait of a Lady, seorang wanita yang mandiri (independent), berjiwa bebas (free-spirited), ekspresif (expressive), dan pandai (intelligent) berubah menjadi tunduk (compliant) dan nonasertif (unassertive) setelah memasuki institusi pernikahan. Edna Pontellier dalam The Awakening, seorang wanita yang tunduk (compliant), pendiam (reserved), dan patuh terhadap kewajibannya (dutiful), berubah menjadi tidak tunduk (incompliant), ekspesif (expressive), dan tidak patuh terhadap kewajibannya (undutiful) setelah berusaha lepas dari perannya sebagai wanita. Pada akhirnya Edna memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mendapat penerimaan dari masyarakat. Dari hasil analisis, saya mendapatkan kesimpulan bahwa pada abad ke-19 terdapat ketidaksetaraan gender antara pria dan wanita di dalam institusi pernikahan. Wanita hanya dianggap sebagai “yang Lain” seperti yang disebutkan Simone De Beauvoir dalam bukunya, The Second Sex, yang menjadi acuan teori feminisme dalam menganalisis kedua novel

About this research paper

What this paper is about

Dalam skripsi ini, saya akan menganalisis penggambaran tokoh utama wanita dalam dua novel, yaitu The Portrait of a Lady karya Henry James dan The Awakening karya Kate Chopin dari sudut pandang feminisme. Kedua novel ini menceritakan tentang wanita yang mengalami tekanan sosial dalam institusi pernikahan pada akhir abad ke-19. Isabel Archer dalam The Portrait of a Lady, seorang wanita yang mandiri (independent), berjiwa bebas (free-spirited), ekspresif (expressive), dan pandai (intelligent) berubah menjadi tunduk (compliant) dan nonasertif (unassertive) setelah memasuki institusi pernikahan. Edna Pontellier dalam The Awakening, seorang wanita yang tunduk (compliant), pendiam (reserved), dan patuh terhadap kewajibannya (dutiful), berubah menjadi tidak tunduk (incompliant), ekspesif (expressive), dan tidak patuh terhadap kewajibannya (undutiful) setelah berusaha lepas dari perannya sebagai wanita. Pada akhirnya Edna memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mendapat penerimaan dari masyarakat. Dari hasil analisis, saya mendapatkan kesimpulan bahwa pada abad ke-19 terdapat ketidaksetaraan gender antara pria dan wanita di dalam institusi pernikahan. Wanita hanya dianggap sebagai “yang Lain” seperti yang disebutkan Simone De Beauvoir dalam bukunya, The Second Sex, yang menjadi acuan teori feminisme dalam menganalisis kedua novel

Why it matters

A significance statement is not available in the OpenAlex record.

Key contribution

A contribution statement is not available in the OpenAlex record.

Method / approach

Method details are not available in the OpenAlex metadata.

Main findings

Findings are not separately available in the OpenAlex metadata.

Limitations

Limitations are not available in the OpenAlex metadata.

Applications

Application details are not available in the OpenAlex metadata.

Available abstract

Dalam skripsi ini, saya akan menganalisis penggambaran tokoh utama wanita dalam dua novel, yaitu The Portrait of a Lady karya Henry James dan The Awakening karya Kate Chopin dari sudut pandang feminisme. Kedua novel ini menceritakan tentang wanita yang mengalami tekanan sosial dalam institusi pernikahan pada akhir abad ke-19. Isabel Archer dalam The Portrait of a Lady, seorang wanita yang mandiri (independent), berjiwa bebas (free-spirited), ekspresif (expressive), dan pandai (intelligent) berubah menjadi tunduk (compliant) dan nonasertif (unassertive) setelah memasuki institusi pernikahan. Edna Pontellier dalam The Awakening, seorang wanita yang tunduk (compliant), pendiam (reserved), dan patuh terhadap kewajibannya (dutiful), berubah menjadi tidak tunduk (incompliant), ekspesif (expressive), dan tidak patuh terhadap kewajibannya (undutiful) setelah berusaha lepas dari perannya sebagai wanita. Pada akhirnya Edna memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mendapat penerimaan dari masyarakat. Dari hasil analisis, saya mendapatkan kesimpulan bahwa pada abad ke-19 terdapat ketidaksetaraan gender antara pria dan wanita di dalam institusi pernikahan. Wanita hanya dianggap sebagai “yang Lain” seperti yang disebutkan Simone De Beauvoir dalam bukunya, The Second Sex, yang menjadi acuan teori feminisme dalam menganalisis kedua novel

Key concepts: Humanities, Portrait, Art, Art history

Related papers

Back to paper searchBrowse research topicsOriginal source
Analysis of the Portrayal of the Female Protagonistsin Henry James’ The Portrait of A Lady and Kate Chopin’s The AwakeningUsing Feminism Approach — Research Paper | ScholarLens