2014•IMAJIRequires access

SEMARANG YOUTH AND COMMUNITY CENTRE

F Adam

Open publisher page 0 citations

Abstract

Dewasa ini perkembangan teknologi, seni dan kebudayaan yang masuk ke Indonesia, khususnya Semarang semakin berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan kecenderungan pendidikan masyarakat yang semakin maju dalam berbagai bidang. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pelajar yang terus meningkat, terdapat 272.873 siswa pada tahun 2012 di Semarang. Tidak jarang dijumpai, banyaknya remaja di Semarang yang sudah fasih dalam menggunakan perangkat teknologi seperti komputer dan smartphone. Di Semarang juga mulai tumbuh berbagai acara hiburan dan pertunjukkan seni yang diselenggarakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta. Kegiatan pertunjukkan seni dan pentas musik pun turut didominasi oleh partisipasi kaum remaja. Dengan menjamurnya perkumpulan kesenian di Semarang, tercatat pada Badan Pusat Statistik tahun 2012 terdapat 304 kelompok kesenian yang aktif melakukan kegiatan. Hal ini tentu mendorong arah minat para remaja untuk mengembangkan diri pada bidang-bidang tersebut. Pada kenyataannya, perkembangan minat remaja di Semarang belum dapat diimbangi dengan tersedianya fasilitas-fasilitas untuk mewadahi kegiatan remaja dalam mengembangkan potensi diri. Terutama diluar ranah pendidikan, seperti minat pada seni dan olahraga belum dapat ditampung dengan baik. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Youth dan Community, pengertian dan standar-standar mengenai fasilitas-fasilitas olahraga, hiburan dan pendidikan serta studi banding beberapa gelanggang remaja yang telah ada. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Semarang, perkembangan fasilitas di kota tersebut, serta program-program pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep high tech menurut Charles Jenks. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.

About this research paper

What this paper is about

Dewasa ini perkembangan teknologi, seni dan kebudayaan yang masuk ke Indonesia, khususnya Semarang semakin berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan kecenderungan pendidikan masyarakat yang semakin maju dalam berbagai bidang. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pelajar yang terus meningkat, terdapat 272.873 siswa pada tahun 2012 di Semarang. Tidak jarang dijumpai, banyaknya remaja di Semarang yang sudah fasih dalam menggunakan perangkat teknologi seperti komputer dan smartphone. Di Semarang juga mulai tumbuh berbagai acara hiburan dan pertunjukkan seni yang diselenggarakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta. Kegiatan pertunjukkan seni dan pentas musik pun turut didominasi oleh partisipasi kaum remaja. Dengan menjamurnya perkumpulan kesenian di Semarang, tercatat pada Badan Pusat Statistik tahun 2012 terdapat 304 kelompok kesenian yang aktif melakukan kegiatan. Hal ini tentu mendorong arah minat para remaja untuk mengembangkan diri pada bidang-bidang tersebut. Pada kenyataannya, perkembangan minat remaja di Semarang belum dapat diimbangi dengan tersedianya fasilitas-fasilitas untuk mewadahi kegiatan remaja dalam mengembangkan potensi diri. Terutama diluar ranah pendidikan, seperti minat pada seni dan olahraga belum dapat ditampung dengan baik. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Youth dan Community, pengertian dan standar-standar mengenai fasilitas-fasilitas olahraga, hiburan dan pendidikan serta studi banding beberapa gelanggang remaja yang telah ada. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Semarang, perkembangan fasilitas di kota tersebut, serta program-program pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep high tech menurut Charles Jenks. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.

Why it matters

A significance statement is not available in the OpenAlex record.

Key contribution

A contribution statement is not available in the OpenAlex record.

Method / approach

Method details are not available in the OpenAlex metadata.

Main findings

Findings are not separately available in the OpenAlex metadata.

Limitations

Limitations are not available in the OpenAlex metadata.

Applications

Application details are not available in the OpenAlex metadata.

Available abstract

Dewasa ini perkembangan teknologi, seni dan kebudayaan yang masuk ke Indonesia, khususnya Semarang semakin berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan kecenderungan pendidikan masyarakat yang semakin maju dalam berbagai bidang. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pelajar yang terus meningkat, terdapat 272.873 siswa pada tahun 2012 di Semarang. Tidak jarang dijumpai, banyaknya remaja di Semarang yang sudah fasih dalam menggunakan perangkat teknologi seperti komputer dan smartphone. Di Semarang juga mulai tumbuh berbagai acara hiburan dan pertunjukkan seni yang diselenggarakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta. Kegiatan pertunjukkan seni dan pentas musik pun turut didominasi oleh partisipasi kaum remaja. Dengan menjamurnya perkumpulan kesenian di Semarang, tercatat pada Badan Pusat Statistik tahun 2012 terdapat 304 kelompok kesenian yang aktif melakukan kegiatan. Hal ini tentu mendorong arah minat para remaja untuk mengembangkan diri pada bidang-bidang tersebut. Pada kenyataannya, perkembangan minat remaja di Semarang belum dapat diimbangi dengan tersedianya fasilitas-fasilitas untuk mewadahi kegiatan remaja dalam mengembangkan potensi diri. Terutama diluar ranah pendidikan, seperti minat pada seni dan olahraga belum dapat ditampung dengan baik. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Youth dan Community, pengertian dan standar-standar mengenai fasilitas-fasilitas olahraga, hiburan dan pendidikan serta studi banding beberapa gelanggang remaja yang telah ada. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Semarang, perkembangan fasilitas di kota tersebut, serta program-program pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep high tech menurut Charles Jenks. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.

Key concepts: Humanities, Art

Related papers

Back to paper searchBrowse research topicsOriginal source
SEMARANG YOUTH AND COMMUNITY CENTRE — Research Paper | ScholarLens